Ahmad nama yang sangat agung, berasal dari Nama Nabi yang mulia. dan semoga Allah memuliakan siapapun yang menyandang namanya.
Pemuda pecinta ilmu ini lahir di kota Basrah, Tahun 433 Hijrah dengan benih-benih ketawadduan di wajahnya.
Keilmuan dan kealimannya mengantarnya menjadi seorang qadi dan juga seorang menteri di usia 47 Tahun. Tak sebagaimana menteri biasanya ia takkan keluar dari rumahnya kecuali telah tuntas solat dan baca qur'annya.
Ketegasan dan keberaniannya saat memimpin, tegas dalam menegakkan kebenaran dan keras pada kezaliman adalah cirinya, orang-orang miskin adalah sahabatnya.
Bagaimana tidak dikiri dan kananya 10 orang staf khusus yang bertugas membagikan sedekah pada fakir miskin 1.120 dinar diamanahkan untuk satu orang petugas, namun tidak ada rasa ujub sedikitpun pada dirinya bahkan semakin menambah kezuhudannya.
dia adalah cerminan ulama pemimpin, dan pemimpin yang ulama. Yang mungkin banyak pemuda hari ini yang tidak mengenalnya.
Suatu hari ia hijrah ke madinah, kota Rasul menyibukkan waktunya dengan membersihkan masjid Nabi. Tak ada sedikitpun perasaan malu akan pekerjaan itu, walau ia dulu seorang menteri yang dihormati.
Kebahagiaan meliputi dirinya dengan pekerjaan melayani masjid Rasulullah, ia memilih untuk menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, keasyikan mengurus rumah Allah itu dia lakoni hingga Allah memulangkan dirinya kepangkuanNya pada Tahun 593 Hijrah.
Sebuah ruangan mushalla yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi menjadi saksi, di samping pintu Jibril itulah beliau di makamkan.
Yang menakjubkan, Allah memberinya jatah hidup yang panjang di dunia, dimana Allah wafatkan dia di usia 160 Tahun. tanpa ada satupun anggota tubuhnya yang kurang atau bahkan cacat karena tergerus usia. tak pernah sedikitpun merasakan sakit pada anggota tubuhnya walau usianya tak lagi muda.
Bingung dan heran beraduk apa kiranya yang menjadi sebab dan rahasia mengapa anggota badan beliau sehat hingga masa tua,
beliau menjawabnya:
حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر
“Kami menjaga anggota tubuh kami di masa muda, sebab itulah Allah menjaganya ketika kami tua.”
Mungkin engkau penasaran dari awal siapa "Ahmad itu?"
Jika benar engkau ingin tahu, dia adalah penulis kitab fenomenal kitab al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal kitab Matan Taqrib atau matan abi syuja. Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asfahaniy.
Beberapa literatur Islam menyebutnya dengan panggilan al-Qadhi Abu Syuja’, Yang mendapat gelar (kun-yah) Abu Thayyib. Ia adalah seorang penulis matan terpopuler dikalangan Syafiyah.
Wallahu A'lam....
Naser Muhammad
Komentar
Posting Komentar