Dunia kian hari kian berkembang. Yang dulunya orang ketika berpergian bermil-mil jarak ditempuh dalam waktu berbulan-bulan, kini hanya dengan pesawat terbang, orang bisa memangkas waktunya hanya dalam kurun waktu sehari, bahkan 2-3 jam mungkin. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan perkembangan teknologi. Ya, sekarang dunia seakan dibuat serba instan bagi manusia. Jarang sudah kita temukan media informasi berupa koran, dimana dulunya menjadi mata pencarian segelintir masyarakat menengah kebawah. Tak lagi kita temukan televisi analog yang digemari pecinta sepak bola untuk melihat tayangan piala dunia dan mendukung negara kebanggaannya. Hampir dikatakan tiap-tiap kita telah terkena dampak dari derasnya arus teknologi yang tak terbendung. Kini semuanya seba digital, hampir semua kebutuhan kita dapat terpenuhi melalu gadgdet/hp.
Pola Dakwah Ala Nabi
Tentunya sebagai seorang muslim, ada tanggung jawab besar yang mesti kita penuhi sebagai hamba Allah yang beriman dan bertakwa. Ada wahyu Ilahi yang harus kita sampaikan kepada masyarakat yang belum merasakan indahnya kehidupan ber-Islam. Beberapa ustadz sering bergurau dengan mengatakan “Surga terlalu luas jika ingin dinikmati sendirian”. Maksudnya adalah sungguh tamak sekali kita jika hanya ingin melaksanakan kehidupan yang Islami sendirian. Sejenak menengok perjalan Rasulullah ke belakang, bagian yang terpenting untuk menyampaikan risalah Islam ialah bagaimana strategi dan pola dakwah Rasulullah SAW. Ini menjadi titik penting kita ketika ingin menapaktilasi perjalan dakwah beliau.
Islam sejatinya mesti disampaikan dengan lemah lembut, sebab Allah SWT saja adalah dzat yang maha lemah lembut. Juga berfirman dalam surah Ali Imran ayat ke 159 :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal”
Ayat ini turun saat orang-orang muslim memenangkan perang Badar, banyak orang musyrik yang menjadi tawanan perang. Rasulullah pun mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan perkara tersebut. Lalu muncullah pendapat dua sahabat yakni Abu Bakar dan Umar Bin Khattab. Alasan Abu Bakar menyatakan tawanan perang bisa dikembalikan apabila ada tebusan adalah bukti bahwasanya agama Islam itu lembut. Sedangkan Umar Bin Khattab mengatakan bahwa tawanan perang harus dibunuh. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang tak lagi berani untuk mencaci Islam. Mendengar dua pendapat yang berlawanan tersebut Rasulullah pun kesulitan untuk menentukan pendapat yang akan ia setujui. Lalu turunlah Q.S Ali-Imran ayat 159 yang memerintahkan Rasulullah untuk bersikap lemah lembut.(Mahali 1993)
Revolusi Zaman
Setelah 1400 tahun berlalu, sekarang saatnya kita yang menjawab tantangan zaman. Bagaimana Islam itu bisa menjadi ajaran yang lemah lembut bergantung pada siapa orang yang mendakwahkan ajaran Islam (baca;Da’i). Bukan hanya tugas seorang ustadz atau kyai yang menjadi da’i, akan tetapi tugas tiap-tiap kita yang meyakini iman dalam hati kita, lalu menegaskan dengan lisan kemudian membuktikan dengan perbuatan.
Sejatinya agama Islam ini bukan hanya menjadi tanda di KTP saja, lebih daripada itu sudah menjadi konsekuensi logis bagi kita untuk menjalankan Syari’at Islam dalam kehidupan kita. Ajaran Islam merupakan ajaran yang komprehensif, mengatur kita sejak kita bangun tidur sampai tidur kembali. Mengurus segala aspek mulai dari Akidah, Ibadah, Syariah, Muamalah/sosial, Politik dan masih banyak lagi. Sehingga tiap gerak gerik kita semuanya ada aturannya.
Sayangnya tidak semua orang memahami itu, terkhusus bagi generasi alpha yang mulai menjamur di era sekarang. Generasi yang rentan kelahirannya berkisar antara tahun 2011-2025. (Family Guide Indonesia, 2017) Mereka yang kebanyakan lahir dari rahim generasi milenial. Tatkala anak mereka menangis atau rewel maka jurus andalannya adalah dengan memberikan gadget/hp. Lama-kelamaan bukannya mereka yang mengasuh anak mereka, melainkan anak mereka diasuh secara masif oleh sosial media. Tak jarang kita temukan anak zaman sekarang sudah lancar memainkan sosial media. Bahkan lebih cakap dari orangtua mereka sendiri generasi milenial, atau mungkin lebih lihai dari kita sebagai generasi z/gen z.
Fakta empiris mengatakan bahwa di era digital sekarang ini, meskipun jumlah ummat muslim di negara ini mayoritas, namun dalam pengamalannya sedikit sekali orang muslim yang mengamalkan ajaran Islam. Tak usah jauh-jauh kita menakar, cukup lihat isi masjid tatkala waktu shalat tiba. Paling-paling masjid hanya dipenuhi oleh para jamaah yang sudah lanjut usia. Sedikit sekali kita temukan para gen z dan gen alpha yang menegakkan tiang agama mereka sendiri. Lma-kelamaan mereka mulai lalai dengan agamanya sendiri, perlahan melupakan kewajibannya dan menjauh dari syari’at Islam.
Dakwah Ala Gen Z
Hal lain yang juga menjadi rutinitas anak-anak gen z dan gen alpha ialah bermain game online. Selain sosial media, game merupakan hal yang digandrungi para kawula muda. Bahkan hampir tiap jam game ini dimainkan, terutama game mobile. Macam-macam game yang dimainkan antara lain, Mobile Legend, PUBG, Free Fire, Fifa Mobile dan masih banyak lagi. Sebenarnya tidak menjadi masalah untuk memainkan game, namun seringkali lupa waktu, sampai-sampai susah untuk menjeda game tersebut. Apalagi adzan telah berkumandang, sulitnya untuk berhenti sebentar sebab para gen z dan gen alpha takut akan kekalahan dan turunnya rank. Inilah yang mesti diperhatikan oleh para Da’i, khusnya genz yang sudah mempelejari dan memahami ajaran Islam. Agar sekiranya mampu mengingatkan adik-adik sebayanya untuk tidak melupakan pengamalan syari’at Islam secara global, meskipun dalam permainan game online sekalipun, ditambah lagi, acapkali terdengar kata-kata sumpah serapah yang tak sepatutnya dilontarkan.
Tipikal gen z ialah tipikal orang yang kreatif dan menerima perbedaan. Hampir sama dengan gen z, gen alpha cenderung inovatif dan berpikiran terbuka terhadap pelbagai pemikiran dan argumen. Mereka juga ambisisus, kerap kali mau mencoba hal-hal baru. Tak heran jikalau banyak dari gen alpha yang mahir memainkan game online. Sebagai seorang Da’i, ini akan menjadi ujian dakwah yang cukup istimewa. Menghadapi mood para gamers yang suka berubah-ubah dalam waktu singkat. Perlunya pendekatan kelembutan untuk mengarahkan mereka supaya pelan-pelan merekonstruksi nilai-nilai Islam yang tertinggal. Contoh sederhananya ialah dalam salah satu hadits anjuran untuk seorang muslim yang tidak bisa mengatakan hal yang baik maka alangkah lebih baik jika ia diam.
Sabda Rasulullah SAW, "Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek." (HR Muslim). Dari hadis ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa menyampaikan ajaran Islam secara lemah lembut akan jaub lebih berkesan dibandingkan disampaikan dengan cara yang terkesan memaksa atau menghakimi. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata :
هذا العصر عصر الرفق والصبر والحكمة ، وليس عصر الشدة ، الناس أكثرهم في جهل ،في غفلة وإيثار للدنيا ، فلا بد من الصبر ، ولا بد من الرفق حتى تصل الدعوة ، وحتى يبلغ الناس وحتى يعلموا
“Zaman ini adalah zamannya untuk berlemah-lembut, sabar dan hikmah, Bukan zamannya bersikap keras, karena kebanyakan manusia banyak yang jahil, lalai dan lebih mementingkan urusan dunia. Oleh karena ini harus bersabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai pada manusia agar mereka mengetahuinya.” [Majmu’ Fatawa 8/376]
Jadi para genz dan gen alpha tidak seharusnya dilarang main game, namun bagaimana menjadikan game tersebut suatu hal yang menjadi ladang pahala dengan cara tidak melalaikan dari kewajiban sebagai seorang muslim ataupun sebagai makhluk yang ber-sosial. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tadi, bahwa sesuatu yang dihiasi kelembutan akan jauh lebih berkesan dan mudah diterima oleh Mad’u (baca;Objek Dakwah).
Kadep Ristek / Pemhida Kaltara
Komentar
Posting Komentar