Sebelum menaklukkan Konstantinopel yang menjadi salah satu catatan sejarah besar dunia, Sultan Muhammad Al Fatih menggelar salah satu sholat Jum’at terbesar di tahun 1453. Setidaknya 250.000 orang mujahid sholat berjamaah dalam perjalanan menuju futuhat bersejarah itu. Pertanyaan selanjutnya siapakah yang akan memimpin sholat Jum’at itu?
Untuk menentukan imam, Sultan Muhammad Al Fatih meminta semua pasukannya berdiri. Ujian seleksi pertama adalah siapa yang sejak akil baligh pernah meninggalkan sholat fardhunya, silahkan duduk. Menakjubkannya tidak seorang pun dari pasukan itu yang duduk. Yang berarti semua pasukan yang dibawa oleh Sultan Muhammad Al Fatih adalah pasukan yang sangat disiplin dalam menjalinkan kewajibannya yang merupakan ibadah yang statusnya adalah fardhu ain bagi seorang Muslim.
Pertanyaan ini begitu penting karena sholat fardhu merupakan pembeda antara Muslim dengan mereka yang syirik dan kafir.
وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ : (( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 82]
Tahapan seleksi kedua, Sultan Muhammad Al Fatih menyampaikan bagi pasukan yang sejak akil baligh pernah meninggalkan sholat rawatib-nya, maka silahkan duduk. Maka sebagian pasukannya duduk dan tereleminasi. Lalu, seleksi yang terakhir adalah, bagi siapa yang selama akal baligh hingga saat ini yang pernah meninggalkan kosong sholat tahajudnya, walaupun satu malam saja, silahkan duduk.
Seluruh pasukan duduk dan satu-satunya yang tetap teguh berdiri adalah Sultan Muhammad Al faith sendiri.
Pemandangan ini memberikan arti bahwa sebagai seorang pemimpin Sultan Muhammad Al Fatih, bukan saja punya sifat yang visioner, keilmuan agama dan dunia yang mumpuni, keilmuan perang yang jitu tetapi yang paling penting adalah sebagai seorang pemimpin ia memiliki kekuatan spirit, kekuatan ruhiyah, kekuatan batiniyah seorang pemimpin pasukan yang unggul.
Kelayakan spirit sebagai seorang pemimpin di mana dia adalah tauladan bai para pengikutnya. Dari sisi spirit, maka layaklah jika mereka merupakan pemimpin dan juga pasukan yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW untuk membebaskan konstantinopel.
لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“. (HR. Ahmad bin Hanbal).
Kecerdasan spiritual ialah kemampuan untuk menanamkan nilai-nilai ibadah pada perbuatan dan aktivitas dengan tindakan dan dengan pemikiran juga, menjadi manusia yang berpendirian konsisten karena mempunyai prinsip hidup untuk ridha Allah (Ary ginanjar 2009).
Kekuatan spiritual seorang Muslim merupakan ketersambungan hati dan jiwanya kepada Sang Khaliq, Allah SWT. Di mana, dengan kekuatan itulah kemudian ia akan selalu menjalankan misinya sebagai seorang Abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (khalifah Allah) sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Apalagi, hakikatnya setiap manusia merupakan pemimpin sesuai dengan amanah kepemimpinannya.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya" (HR al-Bukhari).
Dari sini jelaslah betapa kekuatan spiritual bagi para seorang Muslim terlebih lagi sebagai seorang da’I, aktivis, organisatoris merupakan kunci kemenangan. Baik itu kesuksesan abadi sebagai pribadi terlebih kesuksesan yang bersifat jama’i. Organisasi pergerakan Islam bisa mencontoh bagaimana kepemimpinan spiritual yang dibangun generasi Sultan Muhammad Al faith dan pasukannya untuk mencapai kesuksesan yang hakiki. Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pasukan!
Mazlis B Mustafa/Demisioner Pemhida Kaltara
Komentar
Posting Komentar