Perubahan itu niscaya, setiap hal akan berubah, hanya masalah waktu. Apakah perubahan itu progresif atau tidak, efektif atau tidak. Tergantung bagaimana mengarahkan pengelolaannya.
Progresif yang kita inginkan sebenarnya arahnya kemana, itu hal terpenting yang harus kita urai sebagaimana setiap musafir mestilah punya destinasi yang jelas.
Setiap kita perlu bahkan harus progresif, memiliki syahwat untuk terus bergerak maju, meningkat, bahkan meluas. Baik secara kualitatif ataupun kuantitatif.
Progresif adalah tuntutan kekhalifaan, dan kita semua adalah khalifah dengan tugas-tugas khalifaan yang memiliki beban pertanggung jawaban di akhirat.
Progresif adalah perintah qur'an, bagian dari manifestasi ayat فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ diam bukanlah manifestasi iman karena iman harus senantiasa jaddid, ada pembaharuan, ada gerakan.
Karenanya pemimpin mesti progresif, memiliki ide dan solusi dua tingkat lebih cepat dan lebih luas dari yang dipimpinnya. Aktif, energik, penuh spirit, kreatif, visioner adalah kekuatan minimalnya.
Beradab
Upaya Progresif tentu merupakan tujuan setiap orang, namun ide progresif harus menimbang kaidah jama'i, langkah mesti selaras agar tidak ada satupun yang kita tinggalkan.
Bahwa pemimpin adalah panutan, maka salamatus shadr adalah upaya pembuktian adab paling minimal agar tetap bisa seirama.
Adab adalah kerangka peradaban, Islam di lahirkan, dalam kondisi dimana adab adalah salah satu persoalan utama bangsa arab saat itu.
Maka utusan Allah datang salah satunya adalah بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ atau makarim al ahlak. Maka progresiflah tapi tetaplah beradab.
Komentar
Posting Komentar