Apa sesungguhnya yang kita harapkan dari pemuda?
Pertanyaan di atas mungkin hanyalah pertanyaan dasar, namun memang tidak seutuhnya salah jika melihat realita pemuda kita hari ini. Namun yang jelas bahwa pemuda jika ingin menjawab pertanyaan ini harus lebih banyak lagi menyelami lautan sejarah kisah-kisah heroik para pemuda islam yang berada di sekeliling Rasulullah.
Bukankah sejumlah anak muda yang menjadi pembela dakwah dan perjuangan Rasulullah Saw dalam menegakkan Islam di masa-masa awal, Usia mereka bahkan masih belasan tahun hingga 20-an tahun.
Tak pernahkah pemuda hari ini membaca kissah Muadz bin Amr dan Muawwidz bin Afra’, Anak muda yang berhasil membunuh Abu Jahal. Muadz bin Amr bin Jamuh bahkan usianya baru 14 tahun saat ia melakukan pekerjaan heroik itu.
Anak muda kedua jauh lebih heroik lagi, Muawwidz bin Afra’ namanya bahkan usianya jauh lebih belia saat itu sebab anak muda ini ikut bergabung bersama pasukan kaum Muslimin yang berangkat menuju lembah Badar saat usianya baru beranjak 13 tahun.
Abdurrahman bin Auf tertegun melihat kedua pemuda ini, ia menyebutnya sebagai pejuang pemberani. Abdurrahman bin Auf sendiri yang langsung menuturkan keheroikan keduanya.
“Pada Perang Badar, saya berada di tengah-tengah barisan para mujahidin. Ketika saya menoleh, ternyata di sebelah kiri dan kanan saya ada dua orang anak muda belia. Seolah-olah saya tidak bisa menjamin mereka akan selamat dalam posisi itu.” (Shahih Al-Bukhari)
Abdurrahman bin Auf sangat heran melihat keberadaan kedua anak muda belia ini di dalam sebuah peperangan yang sangat berbahaya seperti perang Badar. Abdurrahman merasa khawatir mereka tak akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang-orang di sekitar mereka berdua, disebabkan usia keduanya yang masih muda.
Abdurrahman melanjutkan kisahnya:
"Tiba-tiba salah seorang dari kedua pemuda ini berbisik kepada saya, ‘Wahai Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?” Pemuda yang mengatakan hal ini adalah Muadz bin Amr bin Jamuh r.a. Ia berasal dari kalangan Anshar dan dirinya belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Pertanyaan mengenai komandan pasukan kaum musyrikin, sang zhalim penuh durjana di Kota Mekkah dan “Fir’aun umat ini”, menarik perhatian Abdurrahman bin Auf r.a. Lantas ia pun bertanya kepada anak muda belia tadi, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”
Pemuda belia itu bahkan menjawab dengan mantap dan tegas sebuah jawaban yang membuat Abdurrahman bin Auf terkaget dan terkagum.
“Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci-maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”
Jika Muadz bin Amr dan Muawwidz bin Afra’ saat usia belasan telah berada di garda depan mebela agama ini dengan jiwanya, lalu kemana anak muda belasan tahun kita hari ini berada?
Apa dia sedang berada di perpustakaan mengkaji ilmu keislaman, atau tengah berada di warnet bermain game online....
Wallahu a'alam....
(Naser Muhammad)
Komentar
Posting Komentar